Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Friday, July 03, 2009

Frekuensi Seks Bisa Perbaiki Kerusakan Sperma

Kabar gembira bagi anda pasangan suami-isteri yang mengalami masalah kesuburan dan ingin memiliki keturunan. Menurut beberapa dokter ada cara terbaik memiliki momongan, yaitu dengan lebih giat melakukan hubungan seks. Atau dengan kata lain frekuensi hubungan suami-isteri semakin ditingkatkan.

Penelitian Dr. David Greening dari Sydney IVF, sebuah pusat kesuburan Australia mengindikasikan bahwa peningkatan aktifitas seksual merupakan pendekatan yang benar dalam memperbaiki masalah kesuburan. Dr Greening melakukan studi terhadap 118 pria yang memiliki kerusakan DNA sperma di atas rata-rata. Partisipan ini diminta mengeluarkan spermanya setiap hari selama seminggu, dan setelah dikalkulasikan kerusakan sperma mereka mengalami penurunan dari 34 persen menjadi 26 persen.

Beberapa ahli percaya bahwa jika sperma terlalu lama berada di dalam tubuh maka resiko kerusakan akan semakin tinggi dan ejakulasi rutin bisa mengurangi peluang terjadinya kerusakan DNA sperma. Para ahli ini mengatakan bahwa penelitian ini sangat menjanjikan, namun belum terbukti kebenarannya bahwa hubungan seks setiap hari secara nyata dapat meningkatkan peluang lahirnya lebih banyak bayi. Karena kualitas sperma ditentukan juga oleh kebiasaan hidup orang yang bersangkutan. Misalnya didapatkan data bahwa kualitas sperma orang yang tidak merokok, minum alcohol, sering berolahraga, dan cukup asupan antioksidan jauh lebih baik dari mereka yang perokok, pecandu alcohol, malas olahraga, dan kurang asupan antioksidan pada makanannya.

Tetapi tentu tidak semua ahli kesehatan setuju dengan pernyataan Dr. Greening. Bill Ledger, professor dari University of Sheffield berkata bahwa DNA sperma hanyalah bagian kecil dari misteri masalah kesuburan. Ledger berpendapat bahwa dorongan untuk lebih sering melakukan hubungan seks untuk mengatasi masalah kesuburan justru bisa menambah beban tersendiri pada pasangan tersebut, yang tentu sebelumnya juga sudah dalam kondisi penuh tekanan karena keinginannya memiliki keturunan yang belum tercapai.

Jadi pada akhirnya terserah anda, mau mengikuti saran Dr. David Greening atau sebaliknya lebih setuju dengan pendapat yang bersebrangan yang diungkap Prof. Bill Ledger.

Sumber: www.healthnews.com

0 comments: