Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Sunday, July 12, 2009

Tato; Antara Keindahan dan Resikonya

Tato bagi sebagian orang dianggap sebagai bentuk ekspresi kehidupan modern. Sebagian yang lain menganggapnya sebagai budaya yang harus diturunkan dari generasi ke generasi. Sementara di bagian lain tidak sedikit orang yang menolak tato karena alasan tertentu misalnya ajaran agama atau alasan kesehatan karena kemungkinan bahaya yang ditimbulkannya.

Terlepas dari pro dan kontra tato di masyarakat, dari sudut kesehatan ada banyak hal yang harus diperhatikan dari tato ini, terutama faktor resikonya.
  1. Resiko Infeksi
  2. Resiko Alergi

Resiko : INFEKSI

Resiko ini adalah resiko yang paling serius. Banyak penyakit yang bisa ditimbulkan tato. Umumnya penyakit seperti HIV atau Hepatitis C diakibatkan oleh kurang sterilnya jarum yang digunakan dalam proses pentatoan. Infeksi lain yang mungkin timbul dari tato adalah impetigo - infeksi kulit yang ditandai dengan lepuhan-lepuhan kecil berisi nanah, MRSA (Methicillin-resistant Staphylococcus aureus) - infeksi kulit karena bakteri yang sulit disembuhkan seperti yang diduga terjadi pada Michael Jackson (alm), atau pun deep-skin infection cellulitis.


Resiko : ALERGI

Beberapa orang menunjukkan gejala alergi yang sebabkan penolakan sistem kekebalan tubuh terhadap pigmen yang digunakan dalam tato khususnya pigmen warna merah. Reaksi ini bisa juga mengakibatkan kerusakan jaringan kulit tubuh kita karena reaksi inflamasi terhadap pewarna atau logam-logam yang digunakan dalam tato. Bisa juga terjadi penyakit dermatitis atau eksim pada bagian tubuh yang ditato.

Setelah mengenal lebih jauh resiko negatif yang mungkin timbul dari tato ini, alangkah baiknya jika kita berpikir ulang jika dalam benak kita ada niat "memperindah" kulit kita dengan tato, meskipun tato tersebut bukan permanen dan hanya bersifat sementara, seperti penggunaan tinta henna untuk mendekorasi kulit. Karena reaksi alergi masih mungkin muncul meskipun kita menggunakan henna yang terbuat dari tumbuh-tumbuhan. Bahkan FDA (Food Drug Assosiation - BPPOM-nya Amerika) menyetujui henna dari tumbuh-tumbuhan hanya untuk keperluan pewarnaan rambut bukan untuk pengecatan kulit.

2 comments:

Anonymous said...

mengapa tidak:)

Anonymous said...

Tak, prawdopodobnie tak jest