Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Saturday, June 20, 2009

Cepat Lelah? Mungkin Rokok Penyebabnya!

Akhir-akhir ini anda sering merasa cepat capai atau lelah? Padahal anda masih muda dan tampak kuat? Anda juga bukan penderita anemia? Jangan bingung, mungkin ini datang dari kebiasaan anda menghisap rokok!

Seperti dilansir sciencedaily.com, otot para pecandu rokok akan cepat terasa capai dibandingkan orang yang bukan perokok. Seorang peneliti, Rob Wüst, dalam tesis PhD-nya menyimpulkan bahwa rokok memiliki efek langsung pada otot. Hal ini dimungkinkan karena asap rokok dapat mengurangi suplai oksigen ke otot, yang pada akhirnya menyebabkan otot para perokok mengalami kekurangan oksigen.

Dalam penelitiannya, Wüst melibatkan sejumlah perokok dan non perokok dengan fungsi paru-paru yang normal sebagai subjek ujinya. Dia merangsang otot kaki bagian atas para subjek, yang menyebabkannya berkontraksi secara berkesinambungan. Kemudian Wüst mengamati kejadian apa saja yang terjadi pada otot tersebut. Ternyata hasil penelitian ini menunjukkan bahwa otot para perokok terlihat lebih cepat mengalami kelelahan dibanding otot yang bukan perokok, terlepas dari berapa jumlah rokok yang dikonsumsi para perokok ini dan berapa lama mereka sudah menghisap rokok.

Jadi bisa jadi, anda cepat lelah karena kebiasaan merokok yang dimiliki. Jadi mulai dari sekarang jauhi rokok, bukan demi orang lain, tetapi demi anda sendiri.



Monday, June 08, 2009

Mengenal Lebih Dekat Hormon Rasa Lapar

Anda sering merasa lapar ketika melihat makanan yang menarik di depan mata meski perut baru saja diisi? Tentu sering bukan! Apa makanan yang terlihat enak itu yang membuat kita merasa lapar? Ternyata tidak. Penelitian terbaru yang dilakukan Universitas Cincinnati menunjukkan bahwa yang bertanggung jawab terhadap munculnya rasa lapar ini adalah hormon ghrelin. Hormon yang ternyata justru diaktifkan oleh lemak yang berasal dari makanan yang kita konsumsi.

Jadi sangatlah wajar jika kita seakan tidak mau berhenti ketika menikmati makanan yang banyak mengandung lemak, misalnya gorengan. Karena lemak dalam gorengan ini akan mengaktifkan enzim rasa lapar kita. Jadi bisa jadi inilah awal dari penyakit kegemukan mendera kita.

Hormon ghrelin sendiri dipercaya terakumulasi selama periode puasa dan akan ditemukan dalam jumlah tinggi sesaat setelah makan. Karenanya hormon ini sering dikenal sebagai hormon rasa lapar (hunger hormone).

Hormon ghrelin bersifat unik. Hormon ini untuk aktif membutuhkan proses alkilasi (penambahan suatu asam lemak) oleh enzim spesifik (ghrelin O-acyl transferase, or GOAT). GOAT sendiri diproduksi saat tubuh kita dalam keadaan puasa.

Data menunjukkan bahwa asam lemak yang dibutuhkan untuk mengaktifkan ghrelin berasal dari lemak yang kita konsumsi. Model awal menunjukkn bahwa sistem ghrelin adalah suatu sensor lipid di dalam perut yang memberikan informasi kepada otak ketika adanya kalori yang kita konsumsi. Ini seperti lampu hijau bagi berlangsungnya proses konsumsi kalori .

Studi pada manusia yang dilakukan di Universitas Virginia menunjukkan bahwa selama puasa, jumlah ghrelin yang aktif tidak terlalu signifikan bahkan cenderung flat. Tetapi dengan adanya lemak yang berasal dari makanan, terjadi peningkatan level ghrelin aktif yang cukup signifikan.

Penelitian ini dianggap penting karena dipercaya bisa digunakan untuk terapi penderita obesitas di masa mendatang. Jadi bagi anda yang kegemukan, mudah-mudahan penelitian ini adalah awal yang baik penyelesaian masalah anda.

Sumber : Science Daily

Sunday, June 07, 2009

Nutrisi Pembentuk Memori

Siapa orangnya yang tak menyukai bentuk tubuh ideal? Anda juga termasuk bukan? Dan sudah menjadi rahasia umum, orang selalu menghubungkan masalah berat badan dengan kelebihan lemak tubuh. Jadi wajar jika banyak dari kita mati-matian mengibarkan bendera "perang" dengan makanan yang mengandung lemak.

Padahal tahukah kita, men-stop konsumsi lemak dari makanan bukan jawaban yang tepat untuk mengatasi masalah kelebihan berat badan. Para ahli nutrisi dan medis justru merekomendasikan 30 persen makanan kita mengandung lemak. Dan demi kesehatan, lemak tersebut seharusnya adalah termasuk "lemak baik" atau lemak tak jenuh seperti olive oil (minyak zaitun), biji buah anggur, canola oil, dan sebagainya. Di dalam tubuh kita, lemak memiliki fungsi antara lain untuk penyerapan mineral, melindungi organ-organ penting tubuh, dan lain-lain.

Para peneliti di Universitas California-Irvine, menemukan bahwa kandungan asam oleat pada "lemak baik" dikonversi selama proses pencernaan menjadi oleoylethanolamide atau OEA yang memilki efek meningkatkan sinyal daya ingat di otak - yang ditunjukkan oleh hasil uji menggunakan tikus yang ternyata mampu mengingat letak makanan yang mengandung lemak. Para peneliti ini berharap bahwa hasil kerjanya ini bisa memberikan alternatif baru terhadap masalah yang berhubungan dengan daya ingat, seperti kemungkinan pengobatan terhadap penyakit alzheimer, demensia, dll. Data lain juga menunjukkan bahwa asam oleat dapat membantu menurunkan berat badan dan menyebabkan kandungan kolesterol dan trigliserida darah menjadi lebih rendah.

Jadi mulai dari sekarang, jangan ragu mengibarkan bendera perdamaian dengan lemak baik. Mudah-mudahan kita bisa ikut merasakan kebaikannya.

Friday, June 05, 2009

Jadikan Pepaya Senjata Ampuh Melawan Kanker!

linksChristopher Columbus menyebut pepaya sebagai “fruit of the angels”. Rasanya yang manis dan banyak mengandung air, membuat banyak orang menyukai buah yang satu ini. Tetapi tentu keistimewaan pepaya tidak hanya sekedar itu, para peneliti mencatat beragam manfaat pepaya bagi kesehatan seperti membantu proses pencernaan dan pembersihan usus, melawan radang, meningkatkan sistem kekebalan tubuh, melindungi paru-paru, revitalisasi tubuh, dan berpotensi melawan kanker.

Berkaitan dengan potensinya melawan kanker, penelitian terbaru menunjukkan pepaya dapat menghentikan pertumbuhan sel kanker payudara, proses metastasis, dan normalisasi siklus sel.

Para peneliti di Meksiko meneliti 14 macam buah yang biasa dikonsumsi masyarakat untuk menentukan kemampuannya menghentikan pertumbuhan sel kanker payudara. Alpukat, mangga, nenas, anggur, tomat dan pepaya adalah beberapa contoh buah yang diteliti. Mereka menemukan hanya pepaya yang memiliki efek signifikan menghentikkan pertumbuhan sel kanker payudara. Penelitian ini dimuat di dalam International Journal of Food Science and Nutrition, edisi bulan Mei.

Pepaya banyak mengandung lycopene

Selain beta carotene, pepaya juga banyak mengandung lycopene. Lycopene sangat berperan dalam memerangi oksigen dan radikal bebas. Para peneliti dari Universitas Illinois menduga aktifitas anti-oksidan inilah yang memberikan sumbangan nyata terhadap keefektifannya melawan kanker. Peneliti lain menyebutkan ada hubungan yang erat antara asupan lycopene pada makanan kita dan resiko kanker prostat. Semakin sering kita mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung lycopene, semakin kecil resiko timbulnya penyakit kanker prostat.

Berkaitan dengan aktifitas anti-oksidannya, penelitian yang lain menunjukkan bahwa lycopene mampu merangsang kematian sel kanker, aktivitas metastatis, dan meningkatkan aktifitas enzim pelindung.

Kandungan isothiocyanates pada pepaya memperbaiki siklus sel untuk memperkecil resiko kanker

Pada penelitian menggunakan hewan uji, senyawa isothiocyanates mampu melindungai hewan uji dari ancaman kanker payudara, paru-paru, usus besar dan prostat. Senyawa ini diduga kuat juga mampu mencegah terjadinya kanker pada manusia.

Jadi mulai dari sekarang, makin seringlah mengkonsumsi papaya, selain nikmat juga membawa sehat.

Sumber : http://www.naturalnews.com

Monday, June 01, 2009

Hati-hati, Melemahnya Pengaruh Orang Tua Mengubah Kebiasaan Makan Anak Yang Tidak Sehat!

Siapa bilang kebiasaan makan sehat anak mengikuti kebiasaan makan sehat orang tuanya? - seperti kepercayaan yang selama ini diyakini banyak orang bahwa kebiasaan anak dalam mengkonsumsi makanan sehat dimulai dari rumah dan ikut ditentukan oleh kebiasaan makan sehat kedua orang tuanya. Setidaknya hasil studi yang ditunjukkan oleh para peneliti di Johns Hopkins Bloomber of Public Health, Amerika Serikat yang dipublikasikan pada bulan Mei 2009 menunjukkan bahwa hubungan antara keduanya sangatlah lemah.

Penelitian ini melibatkan 1061 orang ayah, 1230 orang ibu, 1370 anak laki-laki dan 1322 anak perempuan di Amerika Serikat. Usia orang tua yang disurvei berkisar 20 sampai 65 tahun sedangkan usia anak berkisar 2 sampai 18 tahun.

Menurut para peneliti ini, faktor yang lebih berpengaruh terhadap kebiasaan makan anak adalah pengaruh dari lingkungan seperti kebiasaan makan teman sebaya baik di sekolah maupun di lingkungan rumah, tayangan televisi, dan ketersediaan makanan yang ada di sekitarnya.

Penelitian ini juga memberikan implikasi penting bagi kesehatan masyarakat. Lemahnya hubungan antara perilaku makan orang tua dan kebiasaan makan anak menyebabkan pengaruh orang tua terhadap peningkatan kualitas makan anak menjadi sangat terbatas. Dengan kata lain jika orang tua menginginkan adanya perubahan perilaku makan anak menjadi lebih sehat, tidak bisa hanya ditunjukkan dari kebiasaan orang tua mengkonsumsi makanan. Dan hal ini bisa menyebabkan masalah kesehatan yang cukup serius di masyarakat.

Para peneliti ini juga menduga bahwa dari waktu ke waktu, hubungan ini akan semakin lemah. Jadi mulai dari sekarang, berhati-hatilah agar jangan sampai pengaruh buruk lingkungan membuat anak kita tumbuh menjadi anak yang tidak sehat.

Sumber: http://www.sciencedirect.com/