Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Saturday, January 23, 2010

Perangi Ketuaan dengan Video Game

Para ahli di North Carolina State University menemukan keuntungan di balik video game bagi manusia lanjut usia (lansia). Menurut mereka, permainan dalam video game berpotensi membantu lansia menjaga ketajaman ingatan dan daya responnya.

Potensi video games dalam hal menjaga ketajaman ingatan juga telah dilaporkan pada studi di tahun 2008 oleh para peneliti dari bagian neuroscience &psychology, the University of Illinois. Dalam studi ini, 40 orang yang berusia 60 sampai 70 tahun diminta untuk bermain Rise of Nations, suatu game strategi untuk komputer yang juga menjadi kegemaran para anak muda (termasuk di Indonesia) dan sangat mudah ditemui di toko-toko video game.

Dalam riset ini para peneliti mengukur kemampuan kognitif dari para pemain, yang sebelumnya tidak ada satu pun diantara mereka yang pernah memainkan video game (apapun) untuk jangka waktu dua tahun belakangan. Para peneliti kemudian mengajak mereka bermain Rise of Nation dengan total waktu hampir 24 jam dalam periode delapan minggu.

Studi ini kemudian menemukan, lansia yang bermain video game strategi ini dapat memperbaiki kemampuan daya ingat (ketika diberikan tes memori) dan daya kognisinya.


Sumber: HealthDaily

Thursday, January 14, 2010

Katakan "TIDAK" Untuk Suplemen

Suplemen akhir-akhir ini seakan sudah menjadi trend budaya kesehatan kita. Setiap orang seakan pasti membutuhkan suplemen dalam mendukung segala aktivitas kesehariannya. Padahal benarkah itu?

Sebenarnya kalau merujuk ke asal katanya, suplemen berarti tambahan. Jadi suplemen hanya kita konsumsi jika kita benar-benar sangat membutuhkannya (misalnya sakit). Kalau selama kita bisa bisa mencukupi segala kebutuhan nutrisi kita dari diet seimbang (cukup asupan karbohidrat, lemak, protein, ditambah vitamin dan mineral), kenapa sungkan mengatakan TIDAK untuk suplemen.

Menurut pakar gizi dari Universitas Indonesia, Prof Dr Walujo Soerjodibroto, MsC, PhD (yang dikutip oleh Kompas.com), suplemen yang dijual bebas di pasaran sebenarnya tidak bisa memenuhi kebutuhan tubuh. Yang terjadi bisa kelebihan atau kekurangan. Ini karena suplemen seperti itu tidak bisa diresepkan oleh dokter sehingga takarannya tak terkontrol.

Berikut saya sajikan data dari ( http://dianfm.wordpress.com) tentang fakta-fakta buruk suplemen:

Ø Konsumsi berlebihan suplemen antioksidan seperti vitamin A, E dan betakaroten justru meningkatkan resiko kematian.

Ø Cara terbaik mendapat antioksidan untuk kesehatan kulit adalah lewat asupan vitamin dan minyak dari makanan bukan dari suplemen.

Ø Suplemen vitamin D berlebihan justru berbahaya bagi ginjal dan hati.

Ø Mengkonsumsi suplemen berupa minuman berenergi dapat meningkatkan tekanan darah.

Ø Suplemen herbal dan natural pengganti Viagra yang diklaim lebih aman juga mengandung bahaya, seperti meningkatkan tekanan darah, bahkan mengakibatkan stroke.

Ø Terlalu banyak mengkonsumsi vitamin C akan mengganggu penyerapan tembaga, yang meskipun dibutuhkan dalam jumlah sangat kecil, namun penting mengatur susunan kimia dan kinerja tubuh.

Ø Terlalu banyak suplemen mengandung fosfor akan menghambat penyerapan kalsium.

Ø Kelebihan vitamin A, D, K dan zat besi yang tidak dapat dibuang tubuh berbalik menjadi racun.


Nah kalau sudah begini, masihkah kita menganggap suplemen WAJIB kita konsumsi? Semua tentu pada akhirnya terserah kita.