Saya dulu masih ingat, sewaktu di kampung, ciplukan menjadi salah satu tumbuhan favorit saya. Buahnya yang bulat kecil, jika sudah matang (berwarna kuning) terasa manis. Orang-orang di kampung saya juga sering memanfaatkan ciplukan untuk direbus dan airnya diminum, katanya sebagai obat penyakit darah tinggi atau paru-paru. Tapi tidak seperti buahnya yang manis, air rebusan daun ciplukan terasa pahit....Kemarin sewaktu saya iseng-iseng membaca sebuah majalah, ada berita yang cukup menarik. Ternyata daun ciplukan mujarab untuk mengatasi leukemia (kanker darah). Setidaknya itulah hasil penelitian kolaborasi yang dilakukan Pusat Penelitian Biologi, LIPI Bogor dan Departemen Biokimia, Institut Pertanian Bogor (IPB).
Para peneliti menambahkan masing-masing 50 ppb (bagian per milyar) ekstrak ciplukan, bawang putih, dan bakteri Geobasillus 22a kepada kultur sel kanker limfa dan HL-60 (sel kanker darah). Bawang putih dan bakteri Geobasilus 22a dijadikan sebagai pembanding.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah 12 hari, ukuran sel kanker mengecil. Dari ketiga bahan yang berpotensi tersebut, ciplukan terbukti memiliki daya bunuh sel kanker paling tinggi (sekitar 72%).
Yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah senyawa apakah di dalam ciplukan yang sanggup menghambat sel kanker?
Ternyata unsur Seleniumlah yang berperan penting dalam membunuh sel kanker. Selenium yang merupakan unsur mikro esensial dengan kadar tertinggi di daun, mampu memicu sel kanker untuk melakukan bunuh diri (Apoptosis) karena menghambat perbanyakan DNA sel kanker.
Para peneliti ini juga menyebutkan, ekstrak daun ciplukan sangat berpotensi untuk pengobatan penyakit kanker darah, sementara bawang putih berpotensi di dalam pencegahannya.
Sumber: Majalah trubus edisi 2011









0 comments:
Post a Comment